A.
Prinsip
Keseimbangan
Keseimbangan atau 'adl menggambarkan
dimensi horizontal ajaran Islam, dan berhubungan dengan harmoni segala sesuatu
di alam semesta merefleksikan konsep keseimbangan yang rumit ini. Sebagaimana
firman Allah SWT :
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut
ukuran".
Sifat keseimbangan ini lebih dari sekedar karakteristik alam; ia
merupakan karakter dinamik yang harus diperjuangkan oleh setiap Muslim dalam
kehidupannya. Kebutuhan akan keseimbangan dan kesetaraan ditekankan Allah SWT
ketika Ia menyebut kaum Muslim sebagai ummatun
wasatun. Untuk menjaga keseimbangan antara mereka yang berpunya dan mereka
yang tak berpunya, Allah SWT menekankan arti penting sikap saling memberi dan
mengutuk tindakan mengkonsumsi yang berlebih-lebihan.
"Dan belanjakanlah harta bendamu dijalan Allah
SWT. Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan; dan
berbuat baiklah; karena sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang
berbuat baik".
Pada saat yang sama, Allah SWT tidak berkenan dengan sikap-sikap
asketisme ekstrim. Keseimbangan dan kesederhanaan adalah kunci segalanya; Allah
SWT menggambarkan mereka "yang akan mendapat imbalan tempat tertinggi di
surga" sebagai:
"Mereka yang ketika membelanjakan hartanya
tidak berlebih-lebihan, dan tidak pula kikir, namun sekedar menjaga
keseimbangan diantara keduanya; mereka yang tidak menyembah Tuhan yang lain
beserta Allah SWT,[...] dan mereka yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan
jika mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan
yang tidak berfaedah, mereka melaluinya begitu saja dengan menjaga kehormatan
dirinya, mereka yang jika diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan tidak
menghadapinya seolah-olah buta dan tuli;[...] ”.
B.
Penerapan Konsep Keseimbangan
dalam Etika Bisnis
Prinsip keseimbangan atau kesetaraan berlaku baik secara harfiah
maupun kias dalam dunia bisnis. Sebagai contoh, Allah SWT memperingatkan para
penguasa Muslim untuk :
"Sempurnakanlah takaranmu apabila kamu
menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar, itulah yang lebih utama dan
lebih baik akibatnya".
Sangat menarik untuk mengetahui bahwa makna lain kata 'adl adalah
keadilan dan kesetaraan. Seperti yang dapat kita lihat pada ayat di atas,
sebuah transaksi yang seimbang adalah juga setara dan adil. Qur’an
mempergunakan istilah 'adl dalam pengertian ini. Secara keseluruhan, Islam
sebenarnya tidak ingin menciptakan sebuah masyarakat pedagang syahid yang
berbisnis semata demi alasan kedermawanan. Sebaliknya, Islam ingin mengekang
kecenderungan sikap serakah manusia dan kecintaannya untuk memiliki barang-barang.
Sebagai akibatnya, baik sikap kikir maupun boros keduanya dikutuk baik dalam Qur’an
maupun Hadits.[1]
Kesimpulan
Keseimbangan atau 'adl menggambarkan
dimensi horizontal ajaran Islam, dan berhubungan dengan harmoni segala sesuatu
di alam semesta. Sifat keseimbangan ini lebih dari sekedar karakteristik alam; ia
merupakan karakter dinamik yang harus diperjuangkan oleh setiap Muslim dalam
kehidupannya. Kebutuhan akan keseimbangan dan kesetaraan ditekankan Allah SWT
ketika Ia menyebut kaum Muslim sebagai ummatun
wasatun. Sebagai umat muslim kita harus menjaga sikap
keseimbangan agar senantiasa mendapat ridho dari-Nya.
]